Algoritma Optimasi
Ant Colony
Optimization adalah teknik probabilitas untuk menyelesaikan permasalahan,
berdasarkan tingkah laku semut dalam sebuah koloni yang mencari sumber makanan.
Teknik ini dapat digunakan untuk menemukan solusi dari permasalahan kompleks
untuk mendapatkan jalur optimal dalam grafik.
Diasumsikan ada sebaran titik yang harus dilalui semuanya semua titik terhubung secara langsung dengan titik-titik lainnya, dan semua jalurnya dapat dilalui 2 arah Jarak yang dihasilkan untuk masing-masing titik akan diambil secara acak antara angka 1 sampai 8 Tentukan Jalur yang harus diambil untuk mengelilingi semua titik dengan jarak terpendek
Ant-based techniques pertama
kali digunakan oleh Dorigo et. al [1996] dengan
menggunakan ACO untuk menyelesaikan Traveling Salesman Problem (TSP).
ACO
sudah diterapkan di berbagai
masalah seperti Vehicle Routing Problems, penjadwalan
proyek dengan sumber daya terbatas, data
mining, penjadwalan pekerjaan (job scheduling)
dan beberapa masalah kombinatorial yang lain.
Cara Kerja ACO
Salah satu
hal yang menarik dari perilaku semut adalah
kemampuannya dalam menemukan jarak terpendek
antara sarang mereka dan sumber makanan.
Setiap semut dalam kawanan
yang berjalan akan meninggalkan pheromone (semacam zat kimia) pada jalur yang
dilaluinya. Pheromone ini menjadi semacam sinyal bagi sesama semut.
Pheromone adalah zat kimia yang berasal dari kelenjar endokrin dan digunakan oleh makhluk hidup untuk mengenali sesama jenis, individu lain, kelompok, dan untuk membantu proses reproduksi. Berbeda dengan hormon, pheromone menyebar ke luar tubuh dan hanya dapat mempengaruhi dan dikenali oleh individu lain yang sejenis (satu spesies).
Sumber: https://www.sciencedirect.com/science/article/abs/pii/S0142061515005840
Jalur yang pendek akan
menyisakan sinyal yang lebih kuat. Semut berikutnya, pada saat memutuskan jalur
mana yang harus dipilih, biasanya akan cenderung memilih
untuk mengikuti jalur dengan sinyal yang
paling kuat, sehingga jalur terpendek akan
ditemui karena lebih banyak semut yang akan
melewati jalur tersebut. Semakin banyak
semut yang menempuh suatu
lintasan tertentu, maka aroma pheromone
pada lintasan tersebut akan
semakin kuat.
Pada awalnya semut akan terdistribusi
merata melalui dua lintasan. Setelah beberapa saat semut-semut mulai memilih
lintasan terpendek karena pheromone yang ditinggalkan semut akan mengumpul di
lintasan yang lebih pendek.
Seekor semut k pada simpul i akan memilih simpul j yang dituju pada layer berikutnya dengan probabilitas:
dimana α menunjukkan derajat
kepentingan pheromone dan Ni(k) adalah
pilihan yang dipunyai semut k (neighborhood)
pada saat ia berada pada simpul i.
Neighborhood dari semut k pada
simpul i akan
mengandung semua simpul yang bisa dituju yang tersambung secara langsung ke
simpul i, kecuali simpul
yang sudah dikunjungi sebelumnya.
Seekor semut k ketika melewati ruas akan meninggalkan Jumlah pheromone yang terdapat pada ruas ij setelah dilewati semut k diberikan dengan rumus:
Dengan meningkatnya nilai pheromone pada ruas i−j, maka kemungkinan ruas ini akan dipilih lagi pada iterasi berikutnya semakin Setelah sejumlah simpul dilewati maka akan terjadi penguapan pheromone dengan aturan sebagai berikut:
Variasi Ant Algorithm
Versi pertama disebut dengan
Ant System (AS), yang diaplikasikan pada Travelling Salesman Problem
- Elitist Ant System (EAS)
- Rank-Based Ant System (ASrank)
- Min-Max Ant System (MMAS)
- Ant Colony System (ACS)
- Approximate Nondeterministic Tree Search (ANTS)
- Hyper-Cube Framework for ACO
